Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Wamenkeu Juda Agung Tekankan Pentingnya Kredibilitas Fiskal dalam Pengelolaan APBN

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menegaskan bahwa kredibilitas fiskal menjadi fondasi penting untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memberikan dampak nyata bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Juda Agung dalam forum Australia-Indonesia High Level Policy Dialogue 2026 di Jakarta, Senin (12/10/2026). Forum tersebut mengangkat tema “Structural Transformation through Productivity and Industrial Upgrading”.

Menurut Juda, pengelolaan fiskal yang kredibel dapat meningkatkan kepercayaan investor, mengurangi ketidakpastian, serta mendorong investasi produktif. Langkah tersebut diperlukan untuk mempercepat transformasi struktural dan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Kredibilitas fiskal merupakan modal terpenting yang dibutuhkan Indonesia untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi. Kredibilitas membangun kepercayaan investor, mengurangi ketidakpastian, dan mendukung investasi produktif yang diperlukan untuk transformasi struktural,” ujar Juda.

Ia menjelaskan, kredibilitas fiskal perlu diimbangi dengan fleksibilitas dalam pengelolaan anggaran. Dengan demikian, pemerintah dapat merespons perubahan kondisi ekonomi tanpa mengesampingkan prinsip kehati-hatian dan keberlanjutan fiskal.

Juda juga menekankan bahwa APBN memiliki tiga fungsi utama, yakni mendorong pertumbuhan ekonomi, melindungi masyarakat, dan mendukung transformasi ekonomi nasional.

Untuk menjalankan fungsi tersebut, pemerintah perlu mengoptimalkan belanja produktif yang mendukung aktivitas ekonomi dan investasi. Di sisi lain, program perlindungan sosial juga harus diperkuat untuk menjaga kesejahteraan serta daya beli masyarakat.

“APBN kita harus menumbuhkan ekonomi, melindungi masyarakat, dan mentransformasi perekonomian. Belanja produktif mendukung aktivitas ekonomi dan investasi, sementara perlindungan sosial menjaga kesejahteraan serta daya beli masyarakat,” jelasnya.

Juda menambahkan, keberlanjutan fungsi APBN membutuhkan penguatan penerimaan negara, peningkatan kualitas belanja, serta pengelolaan pembiayaan yang prudent atau mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Melalui langkah tersebut, pemerintah diharapkan mampu menjaga ketahanan fiskal sekaligus menyediakan ruang bagi kebijakan yang responsif terhadap dinamika ekonomi dan kebutuhan pembangunan jangka panjang.

Hilirisasi dan Industrialisasi Jadi Strategi Penguatan Ekonomi

Selain membahas kredibilitas fiskal, Juda menyoroti pentingnya investasi produktif, hilirisasi, dan industrialisasi dalam meningkatkan kapasitas produksi serta nilai tambah ekonomi nasional.

Ia menilai Indonesia perlu mengoptimalkan potensi sumber daya alam yang dimiliki sembari mengembangkan kegiatan produksi yang lebih maju dan bernilai tambah tinggi.

“Kompleksitas ekonomi Indonesia yang relatif rendah justru menjadi alasan mengapa hilirisasi dan industrialisasi menjadi inti strategi pembangunan kita selama satu dekade terakhir. Kita perlu membangun kekuatan yang sudah kita miliki, terutama sumber daya alam, serta secara bertahap beralih ke kegiatan produksi yang lebih canggih dan bernilai tambah lebih tinggi,” tegasnya.

Menurut Juda, penguatan sektor industri dan peningkatan produktivitas menjadi bagian penting dari upaya transformasi struktural. Strategi tersebut diharapkan dapat memperbesar nilai tambah dalam negeri dan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dalam forum dialog yang mempertemukan pemerintah dan akademisi Indonesia-Australia tersebut, Juda berharap pertukaran pengalaman dan hasil penelitian dapat menghasilkan masukan konkret bagi perumusan kebijakan investasi, industri, dan fiskal.

Ia menilai sinergi antara kebijakan fiskal, pengembangan industri, dan investasi diperlukan agar Indonesia dapat meningkatkan kapasitas produktif serta mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

“Dialog ini memungkinkan kita untuk menguji gagasan, membandingkan pengalaman, serta mengidentifikasi pilihan-pilihan yang dapat memperkuat kapasitas yang produktif. Hasil dari dialog ini dapat menjadi bahan masukan bagi kedua pemerintah,” pungkas Juda.(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *