Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Kritik Pelatihan Ekstrem Calon Pegawai BPJS Ketenagakerjaan, Charles Honoris Ingatkan Risiko Fatal

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Wakil Ketua Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Charles Honoris melontarkan kritik keras terhadap video viral di media sosial yang memperlihatkan proses pelatihan bagi calon pegawai BPJS Ketenagakerjaan dengan aksi berjalan tanpa alas kaki di atas bara api. Video kontroversial tersebut salah satunya turut diunggah oleh akun Instagram @melaniesubono.

Charles mengaku heran dengan maraknya metode pelatihan ekstrem yang diterapkan oleh sejumlah lembaga negara belakangan ini, yang dinilai tidak memiliki korelasi langsung dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) di tempat kerja.

“Saya bingung ya melihat bagaimana pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh banyak lembaga negara saat ini. Sering kali tidak ada kaitannya dengan tugas yang akan dijalankan di tempat penugasan,” ujar Charles kepada Suara.com, Jumat (31/7/2026).

Politikus PDI Perjuangan ini lantas menyoroti bentuk-bentuk pelatihan fisik di luar batas kewajaran yang kerap diadopsi berbagai instansi.

“Manajer KDMP misalnya dilatih pakai senjata dan merangkak-merangkak di got. Ini lagi pekerja BPJS Ketenagakerjaan diminta jalan di atas api. Ya… mungkin ini bagian dari mengedukasi apa saja risiko bekerja. Mungkin di luar sana ada pekerjaan yang harus berjalan melewati bara api,” sindirnya.

Menyikapi hal tersebut, Charles mendesak pihak manajemen BPJS Ketenagakerjaan untuk segera memberikan penjelasan resmi serta transparansi mengenai tujuan dan relevansi kegiatan ekstrem tersebut bagi pengembangan kompetensi calon pegawai.

“Saya berharap ada klarifikasi ya dari pihak BPJS terkait hal ini. Apa korelasi dari kegiatan tersebut dengan tugas yang akan dijalankan. Jangan sampai kegiatan seperti ini akhirnya menjadi standar pelatihan di lembaga-lembaga lain,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan kekhawatiran mendalam apabila model pelatihan fisik berisiko tinggi semacam ini terus dinormalisasi. Terlebih, Indonesia pernah mencatat preseden buruk tatkala kegiatan pelatihan serupa di instansi lain berujung pada jatuhnya korban jiwa.

“Kita tentu tidak ingin melihat seperti kasus pelatihan di program KDMP yang berujung pada meninggalnya beberapa peserta pelatihan. Jadi, baik di lembaga ini maupun di lembaga lainnya, saya berharap semua bentuk pelatihan harus relevan dengan tugas yang akan dijalankan,” pungkas Charles.

Sebelumnya, jagat maya dihebohkan oleh rekaman video berdurasi singkat yang menampilkan sejumlah peserta berkaus seragam hijau lengan panjang, celana hitam, mengenakan topi, serta tanda pengenal sedang mengikuti pelatihan di area terbuka.

Dalam tayangan tersebut, para peserta tampak meneriakkan yel-yel “Jamsostek, Jamsostek, Jamsostek Jaya” sebelum satu per satu melintasi jalur barisan bara api tanpa alas kaki. Usai menyeberang, kaki para peserta langsung dibasuh menggunakan air di dalam ember yang telah disediakan.

Rekaman tersebut juga memperlihatkan sejumlah pria berbadan tegap berseragam loreng yang bertindak sebagai instruktur. Salah satu instruktur tampak menyemprotkan cairan—yang diduga sebagai bahan bakar—ke tumpukan bara api sebelum peserta melintasinya. (Egi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *