Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Prabowo Terima Laporan Ekonomi, Manufaktur Indonesia Catat Ekspansi 54 Poin

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta | Harian Merdeka

Presiden Prabowo Subianto memastikan kondisi fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global. Sejumlah indikator ekonomi nasional menunjukkan perkembangan positif, mulai dari aktivitas manufaktur, perdagangan, hingga stabilitas harga.

Hal tersebut dibahas dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo bersama sejumlah anggota Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (2/11/2026).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa sektor manufaktur nasional mencatatkan peningkatan aktivitas. Hal itu tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang mencapai angka 54.

Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi bulan sebelumnya sebesar 52,4. Capaian ini sekaligus menunjukkan penguatan aktivitas manufaktur dengan tingkat ekspansi tertinggi sejak Maret 2024.

“Indeks Purchasing Manager, Indeks Indonesia di sektor manufaktur sudah masuk ke level ekspansi di 54. Itu meningkat dari bulan yang lalu 52,4 dan ini menandakan penguatan ekspansi sektor manufaktur dan level ekspansinya ini terkuat sejak Maret yang lalu, Maret 2024. Jadi ini level ekspansi yang tinggi,” ujar Airlangga.

Selain manufaktur, kinerja perdagangan luar negeri Indonesia juga memperlihatkan tren positif. Pada September 2026, neraca perdagangan nasional mencatatkan surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS.

Surplus tersebut berasal dari perdagangan nonmigas yang mencapai 5,67 miliar dolar AS. Sementara itu, sektor migas masih mengalami defisit sebesar 2,31 miliar dolar AS.

Secara keseluruhan, sepanjang Januari hingga September 2026, surplus neraca perdagangan Indonesia tercatat mencapai 10,61 miliar dolar AS. Nilai tersebut ditopang surplus nonmigas sebesar 34,21 miliar dolar AS, meskipun defisit migas mencapai 23,6 miliar dolar AS.

“Dari segi bulan Januari sampai September 2026, ini surplusnya neraca perdagangan kita 10,61 miliar. Dipicu oleh surplus non-migas sebesar 34,21 miliar dan walaupun defisit migas mencapai 23,6 miliar,” imbuhnya.

Airlangga juga memaparkan perkembangan ekspor nasional yang mengalami pertumbuhan sebesar 5,58 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Hingga September 2026, nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar 221,23 miliar dolar AS. Dari jumlah tersebut, ekspor nonmigas memberikan kontribusi sebesar 212,27 miliar dolar AS.

Di sektor harga, pemerintah turut mencermati perkembangan inflasi. Pada Oktober 2026, inflasi nasional tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan dan 0,22 persen secara bulanan. Sementara itu, inflasi berdasarkan tahun kalender atau year to date (ytd) mencapai 2,4 persen.

Airlangga menjelaskan, angka inflasi tersebut masih berada dalam sasaran pemerintah, yakni 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen.

Tekanan harga terutama berasal dari kelompok pangan bergejolak atau volatile food, termasuk cabai rawit dan ikan segar. Selain itu, kenaikan tarif transportasi, khususnya angkutan udara, turut memberikan pengaruh terhadap inflasi.

Untuk mengantisipasi kenaikan biaya perjalanan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), pemerintah menyiapkan program diskon transportasi sebagai salah satu langkah menjaga daya beli masyarakat.

“Jadi kalau year to date 2,4 persen, juga ini masih dalam range 2,5 plus minus 1 persen. Terutama kalau kita lihat inflasi ini sebabkan oleh volatile food, makanan minuman, cabai rawit, ikan segar. Kemudian juga didukung oleh inflasi di bidang transportasi. Termasuk angkutan udara namun kita punya program untuk diskon menjelang nataru (natal dan tahun baru). Jadi kenaikan itu nanti kita akan kompensasi dengan diskon,” jelas Airlangga.

Menurutnya, berbagai indikator tersebut menjadi gambaran kondisi perekonomian nasional yang masih mampu mempertahankan momentum pertumbuhan. Pemerintah akan terus menjaga stabilitas ekonomi melalui berbagai kebijakan untuk mendukung aktivitas usaha dan daya beli masyarakat.

“Jadi ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia terjaga dan masih kuat sampai bulan ini, dan sampai akhir tahun diharapkan kondisi masih terjaga,” pungkas Airlangga.(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *