Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Bawaslu Bekali Jajaran soal AI untuk Antisipasi Penyalahgunaan pada Pemilu 2029

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jawa Barat | Harian Merdeka

Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI membekali jajarannya mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mengantisipasi penyalahgunaan teknologi tersebut pada Pemilu 2029.

Anggota Bawaslu RI Lolly Suhenty mengatakan, pembekalan dilakukan untuk meningkatkan kapasitas jajaran pengawas dalam memahami cara kerja AI serta memanfaatkannya untuk mendukung tugas pengawasan.

“Yang dilakukan oleh jajaran Bawaslu adalah membekali dulu jajaran pengawas kami di bawah soal apa itu AI, bagaimana dia bekerja, bagaimana Bawaslu bisa memanfaatkannya. Jadi, capacity building yang sedang dilakukan saat ini,” kata Lolly di Pangandaran, Jawa Barat, Kamis (3/9).

Menurut Lolly, penggunaan AI semakin meluas di tengah masyarakat. Perkembangan tersebut juga memunculkan potensi kejahatan siber, termasuk deepfake yang dapat digunakan untuk menyebarkan disinformasi.

Untuk mengantisipasi penyalahgunaan AI pada Pemilu 2029, Lolly mendorong penyusunan regulasi yang memberikan kewenangan kepada Bawaslu untuk mengawasi penggunaan teknologi tersebut.

“Saya meyakini pembuat undang-undang juga melihat persoalan ini sehingga ke depan tentulah ada upaya untuk bisa memberikan kewenangan terhadap Bawaslu dalam mengatasi atau melakukan pengawasan penggunaan AI misalnya,” ujarnya.

Risiko Disinformasi dan Deepfake

Dalam diskusi media bertajuk “Refleksi Kepemimpinan Bawaslu Jelang 5 Tahun” yang digelar Bawaslu RI, Ketua Koalisi Pewarta Pemilu dan Demokrasi (KPP DEM) Achmad Satryo Yudhantoko mengungkapkan sejumlah risiko yang perlu diantisipasi pada Pemilu 2029.

Ia menilai penyebaran disinformasi berbasis deepfake berpotensi semakin rawan. Selain itu, polarisasi dan echo chamber juga menjadi tantangan yang perlu diperhatikan.

“Ini analisis kami terkait dengan risiko Pemilu 2029. Jadi, tentang disinformasi yang menggunakan deepfake itu akan lebih rawan. Kemudian juga polarisasi dan echo chamber,” kata Achmad.(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *