Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Rekayasa Lalin, Acara Lari Tangerang 10K, Mendapat Kritik.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Tangerang | Harian Merdeka

Belakangan di ketahui kemacetan parah di Kota Tangerang baru-baru ini dipicu oleh acara lari Tangerang 10K Minggu (13/9) menyebabkan penutupan jalan. Kendati Pemerintah Kota setempat dan Aparat kepolisian sudah menyiapkan langkah antisipasi, termasuk rekayasa lalu lintas di beberapa ruas jalan.

Tokoh pemuda Cipondoh Kota Tangerang Reza riansyah rizal, mengakui program
olahraga Tangerang 10K 2026 merupakan kegiatan yang positif event lari dapat mendorong masyarakat untuk hidup sehat sekaligus menjadi wadah bagi komonitas dan warga untuk beraktivitas positif.

“Kegiatan olahraganya positif, Namun Ketika sebuah kegiatan akan melakukan rekayasa lalu lintas di jalan-jalan umum, penyelenggara harus mempertimbangkan kepentingan masyarakat lain yang tidak mengikuti kegiatan tersebut,”ujar Reza di temui di kawasan Cipondoh Tangerang pada Senin (14/9)

Menurut Reza, Adanya izin rekayasa lalu lintas (Lalin) merupakan bagian penting dalam penyelenggaraan kegiatan.

“Tetapi izin rekayasa Lalin itu seharusnya juga diikuti dengan tanggung jawab untuk memastikan masyarakat pengguna jalan mendapatkan informasi yang jelas, jalur alternatif yang memadai agar terhindar dari kepadatan kendaraan serta pelayanan dan pengaturan di lapangan yang baik,”Ujarnya.

Ia menyebut, Jangan sampai masyarakat yang hendak bekerja, menuju kantor, mengantar keluarga, menjalankan usaha, maupun melakukan aktivitas lainnya justru mengalami kesulitan akibat kurangnya mendapatkan informasi rekayasa lalin dan perubahan arus lalu lintas.

“Pemerintah Kota dan Aparat kepolisian masih abai hak publik dan kurang edukasi informasi publik, persoalan seperti ini seharusnya tidak kemudian diarahkan untuk mencari siapa yang paling salah ” Seraya Reza menegaskan, Yang lebih penting adalah bagaimana penyelenggara dan pihak terkait melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi,”tukasnya.

Dirinya berharap, Pemerintah perkuat koordinasi antara penyelenggara dan pemerintah daerah, aparat keamanan, petugas lalu lintas dan masyarakat,

“Selain koordinasi menjadi perhatian. apabila kegiatan melibatkan jumlah peserta yang besar dan menggunakan ruas jalan yang menjadi akses utama masyarakat perlu di perhatikan,”ujarnya.

Walau demikian adanya, Masyarakat tentu mendukung kegiatan-kegiatan positif di kota Tangerang. Tetapi dukungan tersebut harus berjalan beriringan dengan hak- hak penghormatan terhadap masyarakat.

“Program tahun depan penyelenggaraan event yang menggunakan ruang publik perlu dipersiapkan secara lebih matang, bukan hanya dari sisi acara dan peserta, tetapi juga dari sisi rekayasa lalu lintas, sosialisasi, pengamanan, jalur alternatif dan mekanisme penanganan apabila terjadi persoalan di lapangan,”ulasnya.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah event bukan hanya dilihat dari meriahnya acara atau banyaknya peserta yang hadir.

“Keberhasilan juga harus diukur dari bagaimana kegiatan tersebut dapat berjalan dengan tertib tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat luas,”lanjutnya.

Dirinya juga mendukung kegiatan olahraga dan kegiatan positif lainnya.

“Tetapi jangan sampai karena sebuah kegiatan menggunakan ruang publik, masyarakat lain justru merasa dirugikan Ini yang menurut saya perlu menjadi bahan evaluasi bersama,”pungkasnya.(Rhm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *