Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Keracunan Makanan? Dokter RS Sari Asih Bintaro Ungkap Cara Menangani dan Mencegahnya

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Tangerang Selatan | Harian Merdeka

Keracunan makanan kerap dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa yang dapat sembuh dengan sendirinya. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat makanan yang tidak aman dapat memicu lebih dari 200 jenis penyakit.

Menurut dr. Muhammad Fadil dari RS Sari Asih Bintaro, keracunan makanan perlu dicurigai ketika keluhan pada saluran pencernaan muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan atau minuman tertentu.

“Gejala yang paling sering muncul adalah mual, muntah, diare, kram atau nyeri perut, dan pada sebagian kasus dapat disertai demam. Tingkat keparahan dapat berbeda pada setiap orang,” ujar dr. Muhammad Fadil.

Kenali Penyebab dan Gejalanya

WHO menjelaskan, penyakit akibat makanan umumnya dipicu mikroorganisme seperti bakteri, termasuk Salmonella, Campylobacter, dan E. coli, virus, parasit, maupun kontaminasi zat kimia berbahaya.

Kontaminasi dapat terjadi pada berbagai tahapan, mulai dari produksi, pengolahan, penyimpanan hingga penyajian. Risiko juga dapat meningkat akibat kontaminasi silang antara bahan makanan mentah dan makanan matang.

Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah dehidrasi. Muntah dan diare berulang dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit. Kondisi tersebut terutama perlu diperhatikan pada anak-anak, lanjut usia, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu.

Langkah Tepat Menangani Keracunan Makanan

Pada kasus ringan, penanganan utama adalah memastikan tubuh mendapatkan asupan cairan yang cukup secara bertahap. Larutan oralit dapat digunakan untuk membantu mengganti cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare.

dr. Muhammad Fadil mengingatkan pasien agar tidak memaksakan makan dalam jumlah banyak ketika masih mengalami mual.

“Yang lebih penting adalah menjaga asupan cairan. Setelah kondisi mulai membaik, makanan bisa diberikan kembali secara bertahap,” jelasnya.

Masyarakat juga diimbau tidak mengonsumsi antibiotik secara sembarangan tanpa resep dokter. Sebab, tidak semua penyakit akibat makanan disebabkan bakteri atau memerlukan pengobatan dengan antibiotik.

Pertolongan medis perlu segera dicari apabila muntah atau diare berlangsung terus-menerus, tubuh terasa sangat lemas, sulit minum, mengalami nyeri perut hebat, buang air besar berdarah, atau demam tinggi.

“Jangan menunggu sampai semakin lemas. Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan,” tegas dr. Muhammad Fadil.

Lima Kunci Pencegahan Keracunan Makanan

Mencegah keracunan makanan dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana dalam pengolahan dan penyimpanan pangan. Berdasarkan panduan Five Keys to Safer Food dari WHO, terdapat lima langkah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, menjaga kebersihan. Biasakan mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan, sebelum makan, serta setelah menggunakan toilet.

Kedua, memisahkan pangan mentah dan matang. Gunakan peralatan yang bersih untuk mencegah kontak antara bahan makanan mentah dan makanan siap saji.

Ketiga, memasak makanan hingga matang sempurna. Daging, unggas, telur, dan hidangan laut perlu dimasak hingga matang untuk membantu membunuh mikroorganisme berbahaya.

Keempat, menyimpan makanan pada suhu yang aman. Makanan matang sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang. Makanan yang mudah rusak perlu segera disimpan pada suhu yang sesuai.

Kelima, menggunakan air dan bahan pangan yang aman. Pilih bahan pangan berkualitas, perhatikan tanggal kedaluwarsa, serta pastikan air yang digunakan untuk minum dan memasak aman.

dr. Muhammad Fadil menekankan bahwa pencegahan keracunan makanan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di dapur.

“Pencegahan sebenarnya dimulai dari hal sederhana, yaitu menjaga kebersihan, mengolah makanan dengan benar dan menyimpan makanan secara aman. Kalau sudah muncul gejala berat, segera cari pertolongan medis,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *