Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Lihat berita
Berlangganan di Harian Merdeka

Berlangganan di Harian Merdeka

Segera berlangganan untuk menerima berita terbaru, ePaper, dan informasi pilihan dari Harian Merdeka.

Cepat & Akurat, tanpa spam, dan dapat berhenti kapan saja.

GDPR Compliance

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan melanjutkan penggunaan situs ini, Anda menyetujui Kebijakan Privasi dan Syarat dan Ketentuan.

Menkes: Jawa Barat Catat Angka Kematian Ibu dan Bayi Tertinggi

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Jakarta I Harian Merdeka

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan Jawa Barat (Jabar) tercatat sebagai salah satu provinsi dengan angka kematian ibu dan bayi yang tinggi di Indonesia.

Budi mengatakan Indonesia masih menghadapi persoalan serius terkait kematian ibu dan bayi. Setiap tahun, sekitar 30 ribu bayi dan 4 ribu ibu meninggal. Menurutnya, angka tersebut menempatkan Indonesia dalam posisi yang kurang baik di kawasan ASEAN.

“Kita di ASEAN itu termasuk yang jelek posisinya. Sesudah kita lihat di Jawa Barat, Jawa Barat itu termasuk yang paling tinggi angkanya, dan itu terjadi di rumah sakit paripurna,” ujar Budi dalam rapat bersama Komisi IX DPR, Senin (14/9/2026).

Budi menyebut terdapat tiga kota dan tiga kabupaten di Jawa Barat yang memiliki angka kematian ibu dan bayi tinggi. Namun, dia tidak mengungkapkan secara rinci nama wilayah maupun jumlah kasus di masing-masing daerah.

Menurut Budi, sebagian kasus kematian ibu dan bayi terjadi ketika pasien mendapatkan penanganan di rumah sakit. Padahal, rumah sakit tersebut telah memiliki akreditasi paripurna.

“Ada kabupaten yang ini, dan kita lihat rumah sakitnya kenapa meninggal? Karena banyak infeksi. Jadi cara mereka menata apa kebersihan rumah sakitnya itu enggak bagus,” ujar Budi.

Kementerian Kesehatan, kata Budi, memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut. Pemerintah juga memberikan waktu satu tahun kepada rumah sakit yang memiliki angka kematian ibu dan bayi tinggi untuk melakukan pembenahan dan meningkatkan kualitas pelayanan.

“Jadi semua rumah sakit-rumah sakit yang tinggi dari sisi kematian ibu bayinya, kita udah list dan kita akan dampingi,” katanya.

Budi mengatakan pembenahan juga akan disertai dengan penerapan sejumlah indikator kesehatan. Salah satunya terkait antimicrobial resistance atau resistensi antimikroba yang akan digunakan sebagai indikator untuk mengukur dan meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit.

“Tapi kita akan masukkan indikator-indikator seperti tadi. Nah misalnya indikator mengenai antimicrobial resistance, nah itu kan ada indikatornya. Kita ukurnya benar-benar seperti itu, dan ini bisa dirubah ya,” imbuh Budi.(hmi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *